Hadapi dengan senyuman

ihadapi dengan senyuman
semua yang terjadi biar terjadi
hadapi dengan tenang jiwa
semua kan baik-baik saja

bila ketetapan Tuhan
sudah ditetapkan, tetaplah sudah
tak ada yang bisa merubah
dan takkan bisa berubah (dewa 19 )

hidup ini ujian, begitu kata ulama
hidup adalah taman bermain, begitu kata pujangga
benar, begitulah hidup, selalu punya dua sisi
sisi sisi yang saling mengisi
satu mengisi lainnya agar keseimbangan tetap terjaga

kemaren kita bermain di pesisir pantai
menikmati desiran angin menyapu kulit
berlarian dikejar ombak
luapan gembira memaku impian setegar karang
sedalam samudera

tapi ketahuilah kekasih..satu saat pasirpun bisa melukaimu
karang tajam sanggup mengoyak impianmu
ombak lihai menyaru jadi gelombang,
menghapus garis pantai dan garis keturunan,
saat dimana teriakan kesenangan berubah jadi nyanyian duka

Kalau hidup adalah Taman bermain
kita adalah pengisi taman itu
larut bermain dan kadang terluka
Lalu merengek kesana, ada juga yang bermerah muka
Kepada Dia yang sampai sekarang masih memperhatikan disana

Namun ketahuilah kekasih
Aku dan kamu tidak tahu, benar benar tidak tahu
Sedetik kedepan adalah misteri
secerah mentari pagi, atau..
Sekelam guratan takdir yang akan kita jalani,

relakanlah saja ini
bahwa semua yang terbaik
terbaik untuk kita semua
menyerahlah untuk menang

Kaulah mendung dan matahariku

Enam tahun lalu di kota itu
Sandal jepit jadi saksi awal perkenalanku dengan mu
Makhluk manis ganti kulit
Semburan air terjun membuat mataku menyipit
Itu gunung dan bukan bukit !


Kisah berlanjut di malam minggu
Saat melamarmu jadi permaisuriku
Layaknya orang gagu
Kau pun langsung mencium pipiku..

Sejak itu aku tersadar
Hidupku pun makin berbinar
Kau menjadi bunga hatiku
Penyemarak nyanyian kalbu


Kisah kita bukan pasaran
beda dengan kebanyakan
Kita jadi petualang
Hingga sampai ke kaliurang

Dingin malam bukan halangan
Motor butut jadi tunggangan
Engkau duduk teramat manis
Duh indahnya parang tritis

Kebersamaan bukan tanpa halangan
Banyak batu jadi rintangan
Kita dihantam badai larangan
Cinta tetap dalam genggaman

Kisah berlanjut ke metropolitan
Kau dan aku jadi gelandangan
Makan susah apalagi kemewahan
Kita tetap bergandengan tangan

Kau bukan wanita sembarangan
Hatimu sebening mutiara
Senyummu sungguh amat menawan
Aku girang tak terkira

Tak terasa bulan depan
Tepatnya tanggal sembilan
Moga Tuhan berketetapan
Aku dan engkau dipersatukan

Saat ini aku merasakan
Perasaan yang amat dalam
Sungguh aku merasa terharu
Kaulah mendung dan matahariku

Aku berjanji pada alam
Tak akan menyianyiakan
Anugerah indah ciptaan Tuhan
Kaulah bidadari impian

Jakarta 23 Juni 2006 : 15.00 WIB

Peranjat

mudahnya jadi pemimpi
Ditopang rasa pongah dan sedikit goresan
Mengandalkan keberuntungan maka semua akan tercipta bagiku

Ah dunia memang bulat dan berputar
Keberuntungan takkan selamanya mengiringi
Sedikit lecutan membuat tersadar
Ternyata aku hanya pecundang